Home

Senin, 10 Oktober 2011

TRIVIA [1]

Ular yang selalu menjulurkan lidah
Lidah ular merupakan alat indra yang sangat berharga. Lidah memungkinkan reptil mencari makan (sama seperti pemancing yang menjulurkan pancingnya ke dalam air), sambil menjelajah permukaan tanah. Ular melakukannya dengan mengecap bahan organik yang tersentuh atau terasa oleh lidahnya, kemudian menerjemahkan data itu menjadi informasi tentang sumber makanan. Ada bukti yang menunjukkan bahwa lidah ular juga peka terhadap getaran bunyi, memberinya peringatan dini bahwa di dekatnya ada mangsa atau pemangsa.

Lidah ular


Arah jarum jam
Sebelum jam (yang sekarang) diciptakan, manusia menggunakan jam matahari. Di belahan Bumi utara, bayangan berputar ke arah yang kini kita sebut “searah jarum jam”. Jarum jam dibuat menirukan gerakan bayangan Matahari. Apabila jam ditemukan di belahan Bumi selatan, mungkin yang disebut searah jarum jam adalah arah kebalikan yang sekarang.

Sundial (jam matahari)


Istilah “Berdarah Biru”
Istilah ini pertama kali dipakai untuk anggota keluarga kerajaan Spanyol selama masa Ranaissance. Pada masa itu, kegiatan anggota keluarga kerajaan hanyalah berkeliaran di seputar istana, sama sekali tidak boleh mengerjakan apa-apa dengan alasan apapun. Karena kurangnya aktivitas fisik, darah mereka dingin dan kekurangan oksigen. Akibatnya vena atau pembuluh darah balik mereka terlihat di balik kulit, maka seolah-olah darah mereka memang berwarna biru.


Kalimantan
Kalimantan merupakan pulau dengan kekayaan hayati yang mengagumkan. Sedikitnya terdapat 11.000 spesies bunga, 221 spesies binatang buas, 92 jenis kelelawar, 210 jenis mamalia (44 di antaranya tidak ditemukan di daerah lain), 15 spesies mamalia laut, 14 jenis primata, dan 549 spesies burung. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal, malah cenderung mengalami kerusakan, seperti kebakaran hutan ataupun illegal logging.
Pada awal dekade 1980-an, sekitar 75% Pulau Kalimantan masih ‘tertutup’, sehingga memberikan citra hijau dalam foto satelit. Namun, sejak 1985 hingga 2005, Kalimantan harus kehilangan 850.000 hektar hutan tiap tahunnya. Angka ini terus meningkat. Bahkan pada 2000-2002 mencapai 1,2 juta hektar per tahun.

Hutan Kalimantan

"Hutan" Kalimantan


Pantai Kuta
Popularitas ombak di pantai selatan Bali ini memang sudah tidak diragukan lagi. Namun, popularitas itu ternyata dulunya dikenal dari kisah orang asing yang terdampar.
Dua petualang Australia dan dua petualang Amerika Serikat (AS) pada dekade 1960-an tersapu ke pesisir tersebut. Mereka sempat tinggal cukup lama, menumpang di rumah penduduk yang saat itu masih beratap ilalang dan berdinding “gedhek”.
Begitu mereka kembali ke daerah asal masing-masing, gelombang kedatangan manusia ke dua pun muncul. Yang datang kali ini adalah turis. Dari para petualang tadi, para turis ini menyebut pesisir tersebut dengan nama Kuta. Padahal, penduduk setempat sudah lebih dulu menyebut pantai mereka dengan nama Kota Mimba – yang artinya kota di dekat hutan. Sedangkan Kuta sebenarnya adalah nama desa adat di kawasan itu.
Pada awalnya, kawasan desa adat Kuta masih tertutup hutan, bahkan sampai pinggiran pantai. Namun pada perkembangannya, hutan di kawasan seluas 17,15 km persegi itu habis juga. Sejak 1980-an Pemprov Bali menata kawasan Pantai Kuta menjadi daerah wisata untuk menampung lonjakan turis. Hotel dan rumah makan baru pun bermunculan. Sekarang kawasan Pantai Kuta sudah sangat ramai.

Pantai Kuta

Thanks for reading ^_^

Sumber:
Buku Why Do Clocks Run Clockwise and Other ImponderablesTM, 1987, karya David Feldman.
Harian “Media Indonesia”.

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.



Related Posts:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar