Home

Kamis, 12 Desember 2013

ASAL USUL WANGSA SYAILENDRA

Wangsa Syailendra adalah wangsa pendiri Kerajaan Mataram.

Istilah Syailendrawangsa pertama kali dijumpai pada prasasti Kalasan berangka tahun 700 Saka (778 M), kemudian pada prasasti Kelurak tahun 704 S (782 M), pada prasasti Abhayagiriwihara dari bukti Ratu Boko tahun 714 S (792 M), pada prasasti Kayumwungan tahun 746 S (824 M).

Yang menarik, istilah Syailendrawangsa juga muncul di luar Jawa, yaitu pada prasasti Ligor B, salah satu sisi prasasti Ligor. Sisi A prasasti Ligor berangka tahun 697 S (775 M). Sisi B-nya terdiri dari empat baris yang ternyata tidak diselesaikan. Pada sisi B inilah terdapat nama raja Sriwijaya yang mengaku terlahir dari wangsa Syailendra. Prasasti Ligor A diperkirakan tiga perempat abad lebih tua dari Ligor B. Boechari menduga bahwa prasasti Ligor B dikeluarkan oleh Raja Balaputradewa.

Prasasti Kalasan
Prasasti Kelurak
Prasasti Ratu Boko

Prasasti Kayumwungan 
Semua prasasti tersebut di atas menggunakan bahasa Sansekerta, dan tiga di antaranya – kecuali prasasti Kayumwungan – menggunakan huruf siddham, bukan huruf Pallawa atau huruf Jawa kuna sebagaimana umumnya prasasti Jawa.

Istilah “syailendra” berarti “raja gunung”, dan nama wangsa ini juga terdapat di India dan Asia Tenggara.


Pendapat-Pendapat tentang Asal Usul Syailendra

Menurut R.C. Majumdar
Wangsa Syailendra yang ada di Indonesia, baik yang di Jawa atau di luar Jawa, berasal dari Kalingga, India Selatan.

Menurut G. Coedes
Wangsa Syailendra berasal dari Funan atau Kamboja. Menurutnya, ejaan Funan dalam berita-berita China itu berasal dari kata Khmer kuna “vnam” atau “bnam” yang berarti “gunung”; dalam bahasa Khmer sekarang “phnom”. Raja-raja Funan disebut parwatabhupala, yang berarti “raja gunung”, arti yang sama dengan “syailendra”. Setelah Kerajaan Funan runtuh sekitar 620 M, ada anggota wangsa Funan yang menyingkir ke Jawa, dan menjadi penguasa di Jawa pada pertengahan abad 8 M, dengan memakai nama Syailendra.

Menurut J. Przyluski
Przyluski beranggapan argumentasi Coedes didasarkan dari tafsiran meragukan dari satu bait dalam prasasti Kuk Prah Kot. Menurutnya, istilah Syailendra dipakai untuk menunjukkan bahwa raja-raja itu menganggap dirinya berasal dari Syailendra yang berarti raja gunung, dan sebutan bagi Syiwa, yaitu Girisa. Dengan kata lain, raja-raja Syailendra di Jawa menganggap leluhurnya ada di atas gunung. Hal ini berarti wangsa Syailendra berasal asli dari Indonesia.

Menurut Nilakanta Sastri
Wangsa Syailendra berasal dari daerah Pandya, India Selatan.

Menurut J. L. Moens
Wangsa Syailendra berasal dari India Selatan, yang pada awalnya berkuasa di Palembang, kemudian pada 683 M melarikan diri ke Jawa karena serangan Sriwijaya dari semenanjung Malaya.

Menurut J. G. de Casparis
Senada dengan Coedes, Casparis beranggapan bahwa wangsa Syailendra berasal dari Kamboja. Dia berhasil menemukan istilah “waranaradhirajaraja” dalam prasasti Plaosan Lor dan Kelurak. Dia mengidentifikasikan Waranara itu dengan Narawaranagara atau Nafuna dalam berita China, yaitu pusat Kerajaan Funan setelah berpindah dari Wyadhapura atau Temu setelah mendapat serangan dari Chenla di bawah pimpinan Bhawawaraman dan Citraresna pada pertengahan ke dua abad 6 M. Setelah pindah dari Nafuna (yang berlokasi di dekat Angkor Borei), ada beberapa raja tersebut yang pergi ke Jawa dan berhasil mengalahkan raja yang berkuasa di Jawa, yaitu Sanjaya dan keturunan-keturuannya. Dengan demikian, di Jawa pada awalnya berkuasa wangsa yang beragama Syiwa, dan setelah kedatangan raja Nafuna yang berhasil menaklukkannya, di Jawa Tengah terdapat dua wangsa, yaitu wangsa Sanjaya yang beragama Syiwa dan wangsa pendatang yang menamakan diri wangsa Syailendra yang beragama Budha.

Menurut Poerbatjaraka
Poerbatjaraka menentang dan tersinggung dengan pendapat yang menyatakan bahwa wangsa Syailendra berasal dari luar Indonesia. Menurutnya, Sanjaya dan keturunannya berasal dari wangsa Syailendra dan asli dari Indonesia. Wangsa ini awalnya beragama Syiwa, namun sejak diperintah oleh Rakai Panangkaran berpindah agama menjadi Budha Mahayana. Dia merujuk pada kitab Carita Parahyangan yang memuat keterangan bahwa Rahyang Sanjaya telah menganjurkan anaknya, Rahyangta Panaraban, untuk meninggalkan agama yang dianutnya. Rahyangta Panaraban diidentifikasikan sebagai Rakai Panangkaran.

Prasasti Sojomerto
Prasasti batu berbahasa Melayu kuna ditemukan di Sojomerto, Pekalongan. Di desa tersebut juga ditemukan prasasti batu berbahasa Sansekerta yang tidak diketahui jelas asalnya. Prasasti Sojomerto menyebutkan nama Dapunta Selendra, nama ayah dan ibunya, Santanu dan Bhadrawati, dan istrinya yang bernama Sampula. Ada satu tokoh lagi yang disebutkan namun namanya tidak terbaca. Istilah yang menunjukkan hubungan antara tokoh-tokoh ini juga tidak terbaca. Dapunta Selendra diberi gelar Hiyang, sehingga mungkin merupakan tokoh yang telah diperdewakan dan dianggap sebagai leluruh Dapunta Selendra.

Sebagaimana wangsa Isana yang berpangkal pada Empu Sindok – yang bergelar Sri Isanawikramadharmotunggadewa – dan wangsa Rajasa yang berpangkal pada Ken Arok – yang bergerlar Sri Rajasa, maka wangsa Syailendra juga pasti berpangkal pada seorang leluhur yang gelarnya mengandung unsur “syailendra”. Prasasti Sojomerto mengungkap nama Dapunta Selendra, yang sudah jelas merupakan ejaan Sansekerta dari Syailendra. Maka dapat disimpulkan bahwa wangsa Syailendra berpangkal kepada Dapunta Selendra. Fakta bahwa prasasti tersebut menggunakan bahasa Melayu kuna menunjukkan bahwa Dapunta Selendra merupakan orang Indonesia asli, dan mungkin sekali berasal dari Sumatera karena di Sumateralah ditemukan banyak prasasti yang berbahasa Melayu kuna.

Prasasti Sojomerto 
Menurut prasasti Sojomerto, Dapunta Selendra sudah jelas beragama Syiwa. Namun bagian penutup prasasti mengungkap bahwa salah satu keturuannya, yaitu Sankhara kemudian berpindah agama menjadi Budha Mahayana. Prasasti ini tidak lengkap dan tidak diketahui angka tahunnya. Namun menurut palaeografinya, prasasti ini diperkirakan berasal dari pertengahan abad 8 M.

Prasasti Sankhara
Dengan kata lain, mungkin sekali pendapat Poerbatjaraka benar, yaitu wangsa Syailendra berasal dari Indonesia, yang awalnya beragama Syiwa, kemudian berpindah agama menjadi Budha Mahayana sejak pemerintahan Rakai Panangkaran, namun kemudian pindah agama lagi menjadi Syiwa sejak pemerintahan Rakai Pikatan.


Sumber:
Buku “Sejarah Nasional Indonesia II”, 1993, karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto.


P.S.
Silakan kalau mau copy-paste, namun mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Kamis, 30 Mei 2013

ASAL MUASAL NAMA KUNINGAN

Sedikitnya terdapat 5 versi mengenai asal muasal nama Kabupaten Kuningan.


(1)   Nama Kuningan berasal dari nama logam kuningan

Dalam Bahasa Sunda (juga Bahasa Indonesia), kuningan adalah sejenis logam yang terbuat dari bahan campuran berupa timah, perak, dan perunggu. Jika disepuh, logam ini akan berwarna kuning mengkilap seperti emas. Logam ini biasa digunakan sebagai bahan untuk membuat berbagai benda seperti patung, bokor, kerangka lampu, dan hiasan dinding.
Di daerah Sangkanherang, dekat Jalaksana, sebelum 1941 ditemukan beberapa patung kecil yang terbuat dari kuningan. Hingga 1950an, barang-barang kuningan banyak diminati oleh kaum elit Kuningan.


(2)   Nama Kuningan berasal dari legenda bokor kuningan

Ada dua versi legenda bokor kuningan:

  1. Dalam cerita Ciung Wanara, di daerah Ciamis pra-Islam, sebuah bokor digunakan untuk menguji kesaktian seorang pendeta Galuh bernama Ajar Sukaresi yang bertapa di Gunung Padang. Pendeta ini diminta oleh Raja Galuh (beribukota di Bojong Galuh, daerah Karangkamulyan sekarang) untuk menaksir perut putrinya yang buncit, apakah sedang hamil atau tidak. Jika salah taksir, pendeta tersebut akan dihukum mati. Hal ini sebenarnya hanyalah siasat sang raja. Buncitnya perut sang putri karena sudah dipasangi bokor kuningan yang ditutupi kain sehingga tampak seperti wanita hamil. Siasat ini dilakukan untuk mencelakakan sang pendeta.

Ajar Sukaresi kemudian menaksir bahwa sang putri tengah hamil. Raja sangat gembira karena sang pendeta telah salah taksir dan kemudian memerintahkan menghukum mati sang pendeta. Namun, ternyata kemudian sang putri benar-benar hamil. Sang raja marah dan spontan menendang bokor kuningan, kuali, dan penjara besi yang berada di sekitar istananya.

Bokor tersebut jatuh di daerah utara, di derah Kuningan. Daerah ini kemudian dinamai Kuningan yang terus berlaku hingga sekarang.
Kuali juga jatuh di utara, hanya lebih dekat. Daerah tempat jatuhnya kuali kemudian dinamai Kawali (Bahasa Sunda dari kuali), termasuk daerah Ciamis sekarang.
Penjara besi jatuh di sebelah barat. Daerah ini kemudian dinamai Kandangwesi (Bahasa Sunda dari penjara besi), nama daerah di Garut selatan.

  1. Dalam Babad Cirebon dan tradisi legenda Kuningan, bokor tersebut digunakan untuk menguji Sunan Gunung Jati pada masa Islamisasi. Jalan ceritanya hampir sama dengan cerita Ciung Wanara. Perbedaannya adalah waktu, tempat, tujuan dan akibat pengujian itu, serta tidak adanya penendangan bokor. Namun, cerita Ciung Wanara jauh lebih tua dari cerita yang ini.

Legenda ini terjadi di Luragung (sekarang kecamatan di Kuningan timur). Tujuan pengujian ini hanya untuk menguji keluruhan ilmu Sunan Gunung Jati. Anak yang lahir adalah anak laki-laki yang kemudian dibesarkan oleh Ki Gedeng Luragung, penguasa Luragung. Sunan Gunung Jati yang merupakan Sultan Cirebon kemudian mengangkat anak tersebut menjadi pemimpin Kuningan dengan gelar Sang Adipati Kuningan.
Hal inilah yang menjadikan bokor sebagai salah satu lambang Kuningan, selain kuda yang merupakan kuda sembrani bernama Si Windu milik Dipati Ewangga, seorang panglima perang Kuningan.

Lambang Kabupaten Kuningan

Patung Kuda Sembrani


(3)   Nama Kuningan berasal dari nama daerah Kajene

Menurut tradisi lisan legenda Kuningan, awalnya daerah Kuningan bernama Kajene. Arti “kajene” adalah warna kuning (“jene” dalam Bahasa Jawa berarti warna kuning). Namun, nama “kajene” sebagai nama awal daerah Kuningan diragukan. Menurut naskah Carita Parahiyangan (sumber tertulis yang disusun di Ciamis pada akhir abad 16), Kuningan sebagai nama daerah (kerajaan) sudah dikenal sejak masa awal Kerajaan Galuh, yakni sejak akhir abad 7 atau awal abad 8 M.


(4)   Nama Kuningan berasal dari nama ajian “dangiang kuning”

Ajian “dangiang kuning” dimiliki oleh Demunawan, salah seorang yang pernah menjadi raja di Kuningan pada masa awal Kerajaan Galuh.


(5)   Nama Kuningan berasal dari sistem kalender Hindu

Dalam sistem kalender Hindu, terdapat siklus waktu upacara keagamaan seperti yang masih dipakai oleh umat Hindu Bali sekarang. Kuningan menjadi nama waktu (wuku) ke-12 dalam sistem kalender tersebut. Pada periode Wuku Kuningan selalu diadakan upacara keagamaan sebagai hari raya. Konon, nama Wuku Kuningan mengilhami atau mendorong pemberian nama pada daerah ini.


P.S.

Pelantikan Adipati Kuningan terjadi pada 4 Muharram. Dalam penanggalan Masehi, tanggal ini bertepatan dengan 1 September 1498. Sejak 1978, tanggal pelantikan ini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kuningan.

Pada 1527, pasukan Kuningan diikutsertakan dalam penyerangan ke Sunda Kelapa (sekarang Jakarta) bersama pasukan Cirebon dan Demak. Pasukan Kuningan dipimpin oleh Dipati Ewangga yang juga mempunyai julukan Dipati Cangkuang (karena menetap di daerah Cangkuang). Dipati Ewangga dan pasukannya ada yang terus menetap di Sunda Kelapa (yang kemudian berubah nama menjadi Jayakarta). Mereka kemudian memilih daerah agak ke dalam dari pelabuhan sebagai tempat tinggal, di daerah yang sekarang disebut Kuningan, di Jakarta Selatan.



Thanks for reading ^_^

Sumber:
Buku “Sejarah Kuningan: Dari Masa Prasejarah hingga Terbentuknya Kabupaten”, 2003, karya Prof. Dr. Edi S. Ekadjati


P.S.
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Sabtu, 19 Januari 2013

PENYAKIT DI MUSIM HUJAN


Curah hujan yang meningkat membuat sejumlah permukiman penduduk tergenang air. Persoalan yang muncul saat banjir bukan hanya genangan air, rumah terendam, atau orang meningggal karena hanyut atau listrik, tetapi juga munculnya berbagai penyakit. Oleh karena itu, masyarakat diminta waspada terhadap beberapa jenis penyakit yang kerap muncul di musim hujan.

Penyakit yang biasa muncul saat atau setelah banjir biasanya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kotor. Kondisi ini memicu tumbuhnya jamur dan bakteri, dan munculnya hewan-hewan pembawa penyakit.


DIARE

Diare merupakan gangguan pada saluran pencernaan (gastrointestinal). Diare dapat menyebabkan dehidrasi yang sangat berbahaya bagi anak-anak dan orang usia lanjut.
Penyebab diare:
1.      Infeksi bakteri, berasal dari makanan atau air yang tercemar. Contohnya Campylobacter, Salmonella, Shigella, dan E-Coli.
2.      Infeksi virus, misalnya Cytomegalovirus, herpes simpleks virus. Intoleransi makanan, beberapa orang tidak mampu mencerna komponen makanan tertentu, seperti laktosa (gula susu).
3.      Parasit, masuk melalui makanan atau air. Contohnya Entamoeba histolytica, dan Cryptosporidium.
4.      Reaksi obat, penyakit pada usus, dan lain-lain. Terkadang penyebabnya sulit dideteksi.

Gejala:
  1. Sakit perut, kembung, mulas.
  2. Frekuensi buang air besar tinggi (sehari sampai 3-5 kali), kadang-kadang disertai darah.
  3. Kadang-kadang diawali demam.
  4. Dehidrasi.

PENYAKIT KULIT (panu, kudis, gatal-gatal)

Disebabkan oleh jamur atau bakteri yang muncul akibat kondisi air yang buruk.

Gejala:
  1. Bisa tanpa gejala.
  2. Bercak putih yang tersebar dan tidak enak dipandang.
  3. Gatal setelah berkeringat.


INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS (ISPA)

Semua radang yang melalui saluran pernapasan yang terjadi kurang dari dua minggu dinamai ISPA, termasuk di antaranya pilek, batuk, radang tenggorokan, radang pita suara, bronchitis, hingga radang paru-paru.

Penularan
Terutama terjadi melalui percakapan, bersin dan batuk, ingus dan dahak, serta benda-benda yang terkena cairan hidung sembarangan.

Gejala
Demam, batuk, dan pilek. Untuk bayi dan balita, bila disertai napas tersengal-sengal dan setiap kali menarik napas tulang-tulangnya terlihat jelas, tandanya dia sudah diserang radang paru-paru (pneumonia). Tanda lain yang mengindikasikan kegawatannya adalah tidak bisa minum, kejang-kejang, kesadaran menurun, mengorok, napas berbunyi, demam atau kebalikannya (suhu tubuh sangat rendah).

DEMAM BERDARAH
Penyakit ini muncul akibat meningkatnya populasi nyamuk Aedes aegypti pascabanjir.

LEPTOSPIROSIS
Disebabkan kuman bernama leptospira, biasanya hidup pada hewan seperti tikus yang bemunculan pada musim hujan dan pascabanjir.


SAKIT MATA
Terjadi akibat infeksi bakteri atau virus yang bermunculan pascabanjir.

 

Gejala
  1. Mata merah dan berair.
  2. Mata keluar kotoran, terutama saat bangun tidur, dan sulit dibuka/lengket.
  3. Terasa pedih dan mengganjal.
Penyebab
  1. Benda asing pada mata.
  2. Infeksi bakteri/virus pada mata yang menular.
  3. Merupakan bagian dari penyakit umum seperti flu atau campak 45.

CACINGAN

Cacingan juga penyakit yang harus diwaspadai pada saat musim hujan. Penularan terjadi lewat tanah yang tercemar telur cacing. Biasanya cacing akan keluar bersama tinja penderita cacingan lalu bertelur di tanah. Jika tanah yang tercemar cacing memasuki saluran pencernaan, telur cacing akan menginfeksi usus. Makanan yang dihinggapi oleh lalat pun bisa terkontaminasi telur cacing. Cacing-cacing tersebut menginfeksi manusia lewat telur cacing yang termakan lalu masuk ke saluran pencernaan atau larva yang menembus kulit, melalui pori-pori kulit atau folikel rambut kemudian memasuki sistem peredaran darah menuju jantung, paru-paru, tenggorokan, dan memasuki saluran pencernaan lalu dikeluarkan kembali melalui tinja. Cacing gelang, cambuk, dan tambang dapat mengakibatkan infeksi ringan hingga berat. Infeksi ringan misalnya mencret akibat terganggunya sistem pencernaan. Sedangkan pada infeksi berat bisa mengakibatkan perlunya dilakukan operasi.


Thanks for reading ^_^

Sumber:
Harian “Media Indonesia”

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Jumat, 08 Juni 2012

KATAK vs KODOK, BUAYA vs ALIGATOR


Katak vs Kodok

Katak (frog)
Kodok (toad)
Harus hidup di dekat air.
Tidak harus hidup di dekat air.
Berkulit halus, lembab, yang membuatnya terlihat “langsing”.
Berkulit kasar, kering, dan bergelombang (tidak rata).
Tubuh kecil.
Tubuh lebih besar.
Mata menonjol, lebih bulat dan panjang.
Mata lebih kecil berbentuk bola.
Kaki belakang lebih panjang, sehingga melompat lebih jauh.
Kaki belakang lebih pendek, sehingga lompatannya pendek dan kadang berlari.
Punya banyak pemangsa.
Tidak punya banyak pemangsa. Kulit kodok mengeluarkan rasa pahit dan bau yang membakar mata dan lubang hidung pemangsa, seperti sigung.

Katak -- Kodok


Buaya vs Aligator

Buaya
Aligator
Moncong membentuk huruf “V”.
Moncong membentuk huruf “U”.
Rahang atas-bawah mempunyai lebar yang sama, sehingga giginya selalu terlihat meski mulutnya ditutup.
Rahang atas lebih lebar, sehingga bila mulut ditutup, gigi di rahang bawah akan masuk ke rongga rahang atas.
Berwarna lebih terang dari aligator.
Berwarna abu-abu kehitaman.
Ukuran tubuh lebih besar, bahkan dibanding dua aligator.
Ukuran tubuh lebih kecil.
Panjang tubuh sekitar 5,4 meter.
Panjang tubuh sekitar 4,2 meter.
Telur diletakkan di lumpur atau sarang yang terbuat dari pasir di dekat air payau.
Telur diletakkan di sekitar tanaman (dikelilingi tanaman) di dekat air tawar.
Kelenjar di lidah buaya bisa mengeluarkan garam berlebih, sehingga buaya bisa hidup di air payau.
Kelenjar di lidah aligator tidak bisa mengeluarkan garam berlebih, sehingga aligator tidak bisa hidup di air asin/payau.

Buaya -- Aligator

Thanks for reading ^_^

Sumber:


PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Selasa, 24 April 2012

CANDI CETHO


Candi Cetho, atau Candi Cetha, terletak pada ketinggian 1400 meter dpl di Gunung Lawu, di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Dalam bahasa Jawa, “cetho” berarti “jelas” atau “jernih”. Keberadaan kompleks candi ini pertama kali dilaporkan oleh Van der Vlies pada 1842. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Van der Vlies maupun A.J. Bernet Kempers, kompleks Candi Cetho terdiri dari 14 teras (aras). Namun, yang ada saat ini hanya 13 teras, yang 9 di antaranya telah dipugar, yang tersusun dari barat ke timur dengan pola susunan semakin meninggi yang menandakan tempat paling suci. Masing-masing halaman teras dihubungkan oleh sebuah pintu dan jalan setapak yang seolah-olah membagi halaman teras menjadi dua bagian. Pada 1928, Dinas Purbakala Hindia Belanda mengadakan penelitian dan ekskavasi untuk mencari bahan-bahan rekonstruksi yang lebih lengkap. Berdasarkan penelitian pada reruntuhan, diketahui bahwa usia Candi Cetho tidak berbeda jauh dengan usia Candi Sukuh.

Kompleks Candi Cetho
Gapura yang berdiri menjulang pada kompleks candi ini mirip dengan gapura di Pulau Bali. Sebelum gapura besar ini, terdapat dua arca yang memiliki ciri-ciri masa prasejarah, yang digambarkan dalam bentuk sederhana yaitu kedua tangan diletakkan di perut atau dada. Sikap arca semacam ini mirip pada patung-patung sederhana di daerah Bada, Sulawesi Tengah. Beberapa kalangan meyakini bahwa arca ini merupakan arca orang Sumeria.

Gapura di Candi Cetho

Arca "penjaga" 
Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras ke dua pun masih berupa halaman dan terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Cetho. Pada aras ke tiga terdapat susunan batu datar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, pahatan berbentuk Matahari yang menggambarkan Surya Majapahit (lambang Kerajaan Majapahit), lingga (simbol penis) dan yoni (simbol vagina) sepanjang 2 meter dengan hiasan tindik bertipe ampallang. Berbeda dengan lingga dan yoni yang terdapat pada kompleks Candi Sukuh, lingga dan yoni pada kompleks Candi Cetho ini terletak di tanah lapang dan akan telihat sempurna bila dilihat dari atas.

Kepala kura-kura raksasa

Surya Majapahit

Lingga dan Yoni
Pada aras selanjutnya, terdapat deretan batu pada dua dataran berdekatan yang memuat relief menggambarkan cuplikan kisah Sudhamala, yang juga terdapat pada Candi Sukuh. Pada dua aras berikutnya terdapat pendapa-pendapa yang mengapit jalan menuju candi. Pendapa-pendapa tersebut hingga sekarang digunakan sebagai tempat ritual keagamaan.

Relief Sudhamala

Pendapa
Pada aras ke tujuh terdapat dua arca, di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan adalah arca Nayagenggong. Mereka berdua merupakan tokoh setengah mitos (yang entah ada dalam sejarah atau tidak), bahkan ada yang menganggap bahwa mereka berdua sebenarnya adalah orang yang sama, yang diyakini sebagai penasehat spiritual Raja Brawijaya V.

Arca Sabdapalon

Arca Nayagenggong
Pada aras ke delapan terdapat arca lingga (atau kuntobimo) di sisi utara dan arca Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Aras ke sembilan merupakan puncak yang digunakan untuk pemanjatan doa. Di sinilah letak Candi Cetho yang mirip dengan Candi Sukuh.

Arca kuntobimo

Arca Prabu Brawijaya V

Candi Cetho
Sampai sekarang, Candi Cetho masih digunakan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu atau Kejawen untuk beribadah. Mereka meletakkan sesajen pada arca kemudian naik ke teras tertinggi untuk melakukan ritual.

Pada Candi Cetho ditemukan prasasti yang berangka tahun 1373 Saka, atau sama dengan 1451 Masehi. Berdasarkan prasasti tersebut dan relief-relief binatang serta arca, kompleks Candi Cetho diperkirakan dibangun sekitar abad 15, di masa akhir Kerajaan Majapahit. Relief binatang lain yang ada di kompleks candi ini adalah relief kadal, gajah, ikan, kodok, belut, dan ketam.

Relief binatang
Struktur kompleks candi ini merupakan hasil pemugaran pada akhir 1970an oleh Humardani, asisten pribadi Presiden Soeharto. Bangunan-bangunan baru seperti pendapa dari kayu juga didirikan. Pemugaran dan pembangunan ini sempat disayangkan oleh para arkeolog karena tidak memerhatikan konsep arkeologi sehingga hasilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Banyak renovasi mengubah kondisi candi seperti saat pertama kali ditemukan, meski beberapa bangunan unik masih tetap dipertahankan. Bangunan lain yang dipugar atau didirikan adalah gapura di depan, bangunan kayu untuk bertapa, arca Sabdapalon, arca Nayagenggong, arca Brawijaya V, lingga, dan bangunan kubus pada bagian puncak candi.

Di sebelah timur kompleks candi ini terdapat arca Dewi Saraswati. Puri Dewi Saraswati yang menyerupai taman ini berada di bukit yang lebih tinggi. Bangunan utamanya adalah lapangan terbuka berlantai batu. Arca yang merupakan sumbangan Kabupaten Gianyar, Bali, ini berdiri di atas kolam dengan latar belakang pepohonan pinus. Di sebelah kanannya merupakan jalan kecil menuju Sendang Pundi Sari yang dulunya merupakan tempat penyucian diri sebelum sembahyang di candi. Dan tidak jauh dari situ terdapat Candi Kethek (candi kera) yang disusun dari batu dan menyerupai punden berundak.

Arca Saraswati

Sendang Pundi Sari

Candi Kethek
Yang menarik dan misterius mengenai candi ini adalah, seperti halnya Candi Sukuh, strukturnya yang menyerupai piramida suku Maya. Beberapa kalangan bahkan menilai strukturnya yang aneh ini berhubungan dengan lokasi Atlantis yang berada di Indonesia yang dahulu diyakini merupakan pusat kebudayaan dunia.

Candi Sukuh - Piramida Maya - Candi Cetho
Kompleks Candi Cetho relatif dekat dengan kompleks Candi Sukuh, Tawangmangu dan Danau Serangan. Namun, medan untuk mencapai kompleks ini bisa dibilang tidak mudah, banyak turunan dan tanjakan, serta tikungan tajam dan sempit. Sepanjang perjalanan menuju kompleks, terhampar perkebunan teh yang berbukit-bukit. Dari kompleks candi ini, pemandangan kota Solo bisa terlihat.


Thanks for reading ^_^

Sumber:


PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.