Home

Selasa, 24 April 2012

CANDI CETHO


Candi Cetho, atau Candi Cetha, terletak pada ketinggian 1400 meter dpl di Gunung Lawu, di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Dalam bahasa Jawa, “cetho” berarti “jelas” atau “jernih”. Keberadaan kompleks candi ini pertama kali dilaporkan oleh Van der Vlies pada 1842. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Van der Vlies maupun A.J. Bernet Kempers, kompleks Candi Cetho terdiri dari 14 teras (aras). Namun, yang ada saat ini hanya 13 teras, yang 9 di antaranya telah dipugar, yang tersusun dari barat ke timur dengan pola susunan semakin meninggi yang menandakan tempat paling suci. Masing-masing halaman teras dihubungkan oleh sebuah pintu dan jalan setapak yang seolah-olah membagi halaman teras menjadi dua bagian. Pada 1928, Dinas Purbakala Hindia Belanda mengadakan penelitian dan ekskavasi untuk mencari bahan-bahan rekonstruksi yang lebih lengkap. Berdasarkan penelitian pada reruntuhan, diketahui bahwa usia Candi Cetho tidak berbeda jauh dengan usia Candi Sukuh.

Kompleks Candi Cetho
Gapura yang berdiri menjulang pada kompleks candi ini mirip dengan gapura di Pulau Bali. Sebelum gapura besar ini, terdapat dua arca yang memiliki ciri-ciri masa prasejarah, yang digambarkan dalam bentuk sederhana yaitu kedua tangan diletakkan di perut atau dada. Sikap arca semacam ini mirip pada patung-patung sederhana di daerah Bada, Sulawesi Tengah. Beberapa kalangan meyakini bahwa arca ini merupakan arca orang Sumeria.

Gapura di Candi Cetho

Arca "penjaga" 
Aras pertama setelah gapura masuk merupakan halaman candi. Aras ke dua pun masih berupa halaman dan terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Cetho. Pada aras ke tiga terdapat susunan batu datar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, pahatan berbentuk Matahari yang menggambarkan Surya Majapahit (lambang Kerajaan Majapahit), lingga (simbol penis) dan yoni (simbol vagina) sepanjang 2 meter dengan hiasan tindik bertipe ampallang. Berbeda dengan lingga dan yoni yang terdapat pada kompleks Candi Sukuh, lingga dan yoni pada kompleks Candi Cetho ini terletak di tanah lapang dan akan telihat sempurna bila dilihat dari atas.

Kepala kura-kura raksasa

Surya Majapahit

Lingga dan Yoni
Pada aras selanjutnya, terdapat deretan batu pada dua dataran berdekatan yang memuat relief menggambarkan cuplikan kisah Sudhamala, yang juga terdapat pada Candi Sukuh. Pada dua aras berikutnya terdapat pendapa-pendapa yang mengapit jalan menuju candi. Pendapa-pendapa tersebut hingga sekarang digunakan sebagai tempat ritual keagamaan.

Relief Sudhamala

Pendapa
Pada aras ke tujuh terdapat dua arca, di sisi utara dan selatan. Di sisi utara merupakan arca Sabdapalon dan di selatan adalah arca Nayagenggong. Mereka berdua merupakan tokoh setengah mitos (yang entah ada dalam sejarah atau tidak), bahkan ada yang menganggap bahwa mereka berdua sebenarnya adalah orang yang sama, yang diyakini sebagai penasehat spiritual Raja Brawijaya V.

Arca Sabdapalon

Arca Nayagenggong
Pada aras ke delapan terdapat arca lingga (atau kuntobimo) di sisi utara dan arca Brawijaya V dalam wujud mahadewa. Aras ke sembilan merupakan puncak yang digunakan untuk pemanjatan doa. Di sinilah letak Candi Cetho yang mirip dengan Candi Sukuh.

Arca kuntobimo

Arca Prabu Brawijaya V

Candi Cetho
Sampai sekarang, Candi Cetho masih digunakan oleh penduduk setempat yang beragama Hindu atau Kejawen untuk beribadah. Mereka meletakkan sesajen pada arca kemudian naik ke teras tertinggi untuk melakukan ritual.

Pada Candi Cetho ditemukan prasasti yang berangka tahun 1373 Saka, atau sama dengan 1451 Masehi. Berdasarkan prasasti tersebut dan relief-relief binatang serta arca, kompleks Candi Cetho diperkirakan dibangun sekitar abad 15, di masa akhir Kerajaan Majapahit. Relief binatang lain yang ada di kompleks candi ini adalah relief kadal, gajah, ikan, kodok, belut, dan ketam.

Relief binatang
Struktur kompleks candi ini merupakan hasil pemugaran pada akhir 1970an oleh Humardani, asisten pribadi Presiden Soeharto. Bangunan-bangunan baru seperti pendapa dari kayu juga didirikan. Pemugaran dan pembangunan ini sempat disayangkan oleh para arkeolog karena tidak memerhatikan konsep arkeologi sehingga hasilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Banyak renovasi mengubah kondisi candi seperti saat pertama kali ditemukan, meski beberapa bangunan unik masih tetap dipertahankan. Bangunan lain yang dipugar atau didirikan adalah gapura di depan, bangunan kayu untuk bertapa, arca Sabdapalon, arca Nayagenggong, arca Brawijaya V, lingga, dan bangunan kubus pada bagian puncak candi.

Di sebelah timur kompleks candi ini terdapat arca Dewi Saraswati. Puri Dewi Saraswati yang menyerupai taman ini berada di bukit yang lebih tinggi. Bangunan utamanya adalah lapangan terbuka berlantai batu. Arca yang merupakan sumbangan Kabupaten Gianyar, Bali, ini berdiri di atas kolam dengan latar belakang pepohonan pinus. Di sebelah kanannya merupakan jalan kecil menuju Sendang Pundi Sari yang dulunya merupakan tempat penyucian diri sebelum sembahyang di candi. Dan tidak jauh dari situ terdapat Candi Kethek (candi kera) yang disusun dari batu dan menyerupai punden berundak.

Arca Saraswati

Sendang Pundi Sari

Candi Kethek
Yang menarik dan misterius mengenai candi ini adalah, seperti halnya Candi Sukuh, strukturnya yang menyerupai piramida suku Maya. Beberapa kalangan bahkan menilai strukturnya yang aneh ini berhubungan dengan lokasi Atlantis yang berada di Indonesia yang dahulu diyakini merupakan pusat kebudayaan dunia.

Candi Sukuh - Piramida Maya - Candi Cetho
Kompleks Candi Cetho relatif dekat dengan kompleks Candi Sukuh, Tawangmangu dan Danau Serangan. Namun, medan untuk mencapai kompleks ini bisa dibilang tidak mudah, banyak turunan dan tanjakan, serta tikungan tajam dan sempit. Sepanjang perjalanan menuju kompleks, terhampar perkebunan teh yang berbukit-bukit. Dari kompleks candi ini, pemandangan kota Solo bisa terlihat.


Thanks for reading ^_^

Sumber:


PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.



Related Posts:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar