Home

Minggu, 16 Oktober 2011

TRIVIA [2]

Bonsai
Bonsai (berasal dari bahasa Jepang yang berarti “menanam dalam pot”), adalah seni dalam menumbuhkan tanaman agar menjadi kerdil dan artistik. Telah dilakukan di China sejak 3000 tahun lalu. Tahun 1800-an bangsa Jepang mulai melakukan penanaman bonsai dan melakukannya dengan baik sehingga banyak orang menyangka bahwa bonsai berasal dari Jepang.

Bonsai

Kucing Pos
Pada 1879, kantor pos di Belgia mempekerjakan 37 kucing untuk mengirimkan surat ke pedesaan di sekitar kota Liege. Namun, eksperimen ini tidak bertahan lama karena kucing tidak disiplin.

Nama lengkap LA
Nama lengkap kota Los Angeles adalah El Pueblo de Nuestra Senora la Reina de los Angeles de Porciuncula.

Peregrine falcon
Cheetah seringkali dianggap sebagai hewan tercepat. Cheetah memang tercepat, tapi di antara semua mamalia dan semua hewan darat. Kecepatan larinya bisa mencapai 114 km/jam. Namun, ada hewan yang masih jauh lebih cepat, yaitu elang peregrine (atau peregrine falcon). Kecepatan elang ini yang pernah tercatat adalah 390 km/jam. Peregrine falcon tersebar di seluruh benua kecuali Antartika. Namun sekarang sudah mulai terancam punah akibat rusaknya habitat mereka.

Peregrine falcon

Tiger Woods
Pecinta golf tentu tak asing dengan nama Eldrick “Tiger” Woods. Woods diakui sebagai pegolf terbaik sepanjang masa. Menjadi menarik melihat asal-usul pegolf yang pernah tersandung kasus skandal seks tersebut. Ayah Woods (alm.) adalah veteran Perang Vietnam berpangkat letnal kolonel. Campuran 50% kulit hitam, 25% China, dan 25% Indian. Ibunya, Kutilda, perpaduan 50% Thailand, 25% China, dan 25% Belanda. Kesimpulannya, di dalam tubuh Woods mengalir ¼ darah Thailand, ¼ darah China, ¼ darah Afrika, 1/8 darah Indian, dan 1/8 darah Belanda. Dia menamakan perpaduan ini sebagai “Cablinasian”, istilah yang diciptakannya sendiri.

Tiger Woods

Cheetah
Cheetah adalah hewan tercepat di antara hewan-hewan darat. Kecepatan larinya bisa mencapai 114 km/jam. Namun, kecepatan itu hanya bisa dipertahankan sampai sejauh 1 mil (1,6 km). Setelah itu kecepatannya terpaksa dikurangi karena membuat kepalanya panas.

Cheetah


Thanks for reading ^_^

Sumber:
Harian “Media Indonesia”.

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Senin, 10 Oktober 2011

TRIVIA [1]

Ular yang selalu menjulurkan lidah
Lidah ular merupakan alat indra yang sangat berharga. Lidah memungkinkan reptil mencari makan (sama seperti pemancing yang menjulurkan pancingnya ke dalam air), sambil menjelajah permukaan tanah. Ular melakukannya dengan mengecap bahan organik yang tersentuh atau terasa oleh lidahnya, kemudian menerjemahkan data itu menjadi informasi tentang sumber makanan. Ada bukti yang menunjukkan bahwa lidah ular juga peka terhadap getaran bunyi, memberinya peringatan dini bahwa di dekatnya ada mangsa atau pemangsa.

Lidah ular


Arah jarum jam
Sebelum jam (yang sekarang) diciptakan, manusia menggunakan jam matahari. Di belahan Bumi utara, bayangan berputar ke arah yang kini kita sebut “searah jarum jam”. Jarum jam dibuat menirukan gerakan bayangan Matahari. Apabila jam ditemukan di belahan Bumi selatan, mungkin yang disebut searah jarum jam adalah arah kebalikan yang sekarang.

Sundial (jam matahari)


Istilah “Berdarah Biru”
Istilah ini pertama kali dipakai untuk anggota keluarga kerajaan Spanyol selama masa Ranaissance. Pada masa itu, kegiatan anggota keluarga kerajaan hanyalah berkeliaran di seputar istana, sama sekali tidak boleh mengerjakan apa-apa dengan alasan apapun. Karena kurangnya aktivitas fisik, darah mereka dingin dan kekurangan oksigen. Akibatnya vena atau pembuluh darah balik mereka terlihat di balik kulit, maka seolah-olah darah mereka memang berwarna biru.


Kalimantan
Kalimantan merupakan pulau dengan kekayaan hayati yang mengagumkan. Sedikitnya terdapat 11.000 spesies bunga, 221 spesies binatang buas, 92 jenis kelelawar, 210 jenis mamalia (44 di antaranya tidak ditemukan di daerah lain), 15 spesies mamalia laut, 14 jenis primata, dan 549 spesies burung. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal, malah cenderung mengalami kerusakan, seperti kebakaran hutan ataupun illegal logging.
Pada awal dekade 1980-an, sekitar 75% Pulau Kalimantan masih ‘tertutup’, sehingga memberikan citra hijau dalam foto satelit. Namun, sejak 1985 hingga 2005, Kalimantan harus kehilangan 850.000 hektar hutan tiap tahunnya. Angka ini terus meningkat. Bahkan pada 2000-2002 mencapai 1,2 juta hektar per tahun.

Hutan Kalimantan

"Hutan" Kalimantan


Pantai Kuta
Popularitas ombak di pantai selatan Bali ini memang sudah tidak diragukan lagi. Namun, popularitas itu ternyata dulunya dikenal dari kisah orang asing yang terdampar.
Dua petualang Australia dan dua petualang Amerika Serikat (AS) pada dekade 1960-an tersapu ke pesisir tersebut. Mereka sempat tinggal cukup lama, menumpang di rumah penduduk yang saat itu masih beratap ilalang dan berdinding “gedhek”.
Begitu mereka kembali ke daerah asal masing-masing, gelombang kedatangan manusia ke dua pun muncul. Yang datang kali ini adalah turis. Dari para petualang tadi, para turis ini menyebut pesisir tersebut dengan nama Kuta. Padahal, penduduk setempat sudah lebih dulu menyebut pantai mereka dengan nama Kota Mimba – yang artinya kota di dekat hutan. Sedangkan Kuta sebenarnya adalah nama desa adat di kawasan itu.
Pada awalnya, kawasan desa adat Kuta masih tertutup hutan, bahkan sampai pinggiran pantai. Namun pada perkembangannya, hutan di kawasan seluas 17,15 km persegi itu habis juga. Sejak 1980-an Pemprov Bali menata kawasan Pantai Kuta menjadi daerah wisata untuk menampung lonjakan turis. Hotel dan rumah makan baru pun bermunculan. Sekarang kawasan Pantai Kuta sudah sangat ramai.

Pantai Kuta

Thanks for reading ^_^

Sumber:
Buku Why Do Clocks Run Clockwise and Other ImponderablesTM, 1987, karya David Feldman.
Harian “Media Indonesia”.

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Minggu, 09 Oktober 2011

PULAU RAMBUT

Kepulauan Seribu memang membuat Jakarta berbeda. Karena keberadaan kepulauan inilah, ibukota yang sudah hampir lumpuh karena kemacetan ini menjadi satu-satunya ibukota negara di dunia yang mempunyai taman laut nasional.

Salah satu pulau yang ada di bawah pengawasan Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu (BTNLKpS) adalah Pulau Rambut, yang juga dikenal sebagai “surga burung laut”. Luas pulau ini sekitar 90 hektar, 45 hektar di antaranya adalah daratan. Pulau yang sejak 1999 ditetapkan sebagai kawasan suaka margasatwa ini memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, baik flora maupun fauna.

Pulau Rambut
Tidak ada data pasti mengapa pulau ini dinamai Pulau Rambut. Hanya ada legenda dan mitos yang diragukan kebenarannya.

Pulau Rambut pertama kali diusulkan penetapannya sebagai kawasan konservasi oleh Direktur Kebun Raya Bogor kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jakarta dengan status berupa cagar alam. Alasan penting yang mendasari usulan tersebut adalah untuk melindungi berbagai jenis burung air yang banyak terdapat di pulau tersebut. Secara resmi, Pulau Rambut ditetapkan sebagai cagar alam pada 1937 melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 7 tanggal 3 Mei 1937. Selanjutnya keputusan tersebut dimuat dalam Lembar Negara (Staatblat) No. 245 Tahun 1939. Sedangkan pelaksanaannya diatur dalam Peraturan (Ordonansi) Perlindungan Alam tahun 1941 yang dimuat dalam Lembar Negara No. 167 tahun 1941. Pada saat itu, Pulau Rambut dinyatakan seluas 20 hektar.

Dalam perkembangannya, kondisi dan potensi Pulau Rambut terus berubah. Berdasarkan penelitian tim Pusat Pengkajian Keanekaragaman Hayati Tropika Lembaga Penelitian IPB tahun 1997, diketahui bahwa sebagian besar vegetasi mangrove (bakau) mengalami kehancuran akibat pencemaran sampah dan minyak.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Pulau Rambut ditetapkan sebagai Suaka Margasatwa oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui Surat Keputusan Nomor 275/Kpts-II/1999 tanggal 7 Mei 1999 seluas 90 hektar, yang terdiri dari 45 hektar daratan dan 45 hektar perairan.

Secara geografis, kawasan Suaka Margasatwa Pulau Rambut terletak di antara 106⁰41’14” - 106⁰41’46” BT dan 5⁰56’47” – 5⁰ 56’57” LS, yaitu ke arah barat laut dari Pelabuhan Tanjung Priok. Sedangkan menurut administrasi pemerintah, Pulau Rambut termasuk wilayah Kelurahan Pulau Untung Jawa, Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu.

Pulau Rambut, diambil dari Google Earth
Mangrove dan hutan air payau menutupi dua per tiga Pulau Rambut. Hutan reboisasi terdapat di bukit, dan tiga hutan yang ada di pulau ini menjadi habitat burung pemakan ikan. Pantai barat dan utara “dihiasi” batu karang yang membentuk laguna alami. Hutan di pantai dipenuhi pandan (Pandanus tectorius). Di daerah pasang terdapat cemara laut (Casuarina equisetifolia), serta akasia dan lamtoro, yang bukan merupakan tanaman asli pulau ini.

Mangrove
Pantai Pulau Rambut
Pulau Rambut yang dulunya disebut Midburt Eiland ini merupakan pulau yang tidak dihuni oleh manusia, yang membuat burung-burung dari mancanegara sangat senang menjadikan pulau ini sebagai “klinik bersalin” mereka. Apalagi di sini banyak pohon kepuh dan kedoya, yang tingginya mencapai 15 meter.

Pohon di Pulau Rambut
Selain pemandangannya yang unik, pulau ini juga menyuguhkan aroma bulu burung, bau kotoran burung dan kalong yang mengering sehingga berwarna seperti kapur di dahan, di semak, ataupun di daun-daun.

Sebagian besar fauna penghuni Pulau Rambut adalah burung, sekitar 22 jenis burung merandai (burung air) dan 39 jenis burung darat. Sebagian besar burung air atau burung laut adalah burung penetap yang menghuni Pulau Rambut sepanjang tahun. Yang menarik, burung-burung ini memiliki perilaku migrasi ke Pulau Jawa atau pulau lain di Kepulauan Seribu untuk mencari makan pada pagi hari dan kembali ke Pulau Rambut pada sore hari untuk beristirahat.

Jenis burung laut yang hidup di Pulau Rambut antara lain cagak merah (Ardea purpurea), cagak abu (Ardea cinerea), kuntul besar (Egretta alba), kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul karang (Egretta sacra), bluwok (Mycteria cinerea), roko-roko (Plegadis falcinellus) , pecuk ular (Anhinga melanogaster) , kuntul sedang (Egretta intermedia), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis).

Burung Bluwok
Burung Kuntul
Pada keadaan biasa, diperkirakan sekitar 20.000 burung hidup di pulau ini. Di bulan Maret sampai September, jumlah itu meningkat menjadi hingga 50.000 burung. Burung-burung itu diperkirakan datang dari Australia.


Burung-burung air banyak bertebaran di sekitar pantai Teluk Jakarta. Ada yang menyebar hingga Tangerang yang letaknya tidak terlalu jauh dari Pulau Rambut. Ada juga yang terbang dan mencari makan di sekitar hutan mangrove di pesisir utara Jakarta. Tapi ada juga burung yang terbang hingga Marunda dan Muara Gembong di Bekasi.

Jakarta dilihat dari Pulau Rambut
Hewan lain yang banyak dijumpai di pulau ini adalah biawak, ular, dan kelelawar buah (Pteropus vampyrus). Biawak biasanya hidup di hutan mangrove dan memakan burung-burung kecil yang jatuh saat belajar terbang. Biawak hampir bisa dilihat tiap hari, tidak seperti ular yang bukan merupakan pemakan harian. Biawak membuat lubang di bawah pohon sebagai sarang. Anak biawak yang berbadan ramping dan berkuku tajam memudahkannya untuk memanjat pohon dan mengambil telur burung. Sedangkan ular biasanya bersembunyi di dalam akar pohon, dan kelelawar bergelantungan di pohon-pohon. Biawak dan ular merupakan penyeimbang rantai makanan di pulau ini. Bila tidak ada biawak atau ular, maka bangkai-bangkai dan telur-telur burung akan membusuk dan pulau akan berbau bangkai.

Pulau Rambut tidak terbuka untuk umum karena pulau ini merupakan kawasan cagar alam untuk konservasi, penelitian ilmiah, pendidikan, dan wisata. Bagi yang ingin berkunjung harus mendapat izin dari Pusat Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta.

Bila menyusuri Pulau Rambut, disarankan menggunakan topi karena kemungkinan kepala kita akan terkena kotoran burung karena burung-burung di Pulau Rambut membuat sarang di atas pohon yang tinggi.

Untuk memudahkan pengunjung melihat burung-burung dari kejauhan, BTNLKpS membangun menara setinggi 15 meter, yang bisa memuat 10-15 orang. Di sini pengunjung dapat melihat burung-burung yang mendiami pohon. Dari kejauhan, pohon-pohon itu tampak bagaikan “pohon burung” karena sejauh mata memandang, yang terlihat memang selalu burung.

Menara Pulau Rambut
"Pohon burung"
Keunikan pulau ini bukannya tidak mencapat ancaman. Faktor alam dan manusia bisa menjadi perusak habitat di pulau ini.

Polusi laut dan keberadaan kelelawar merupakan ancaman bagi habitat Pulau Rambut. Yang paling mengancam adalah kelelawar. Belakangan ini, yang mengkhawatirkan adalah banyaknya pohon yang mati meskipun tanah di sekelilingnya subur. Kelelawar diyakini menjadi penyebabnya. Baik kelelawar dan burung menjadikan pohon tinggi sebagai tempat tinggal. Cakar kelelawar berbahaya bagi dahan dan ranting pohon. Ratusan kelelawar bergelantungan sepanjang siang sebelum akhirnya mereka pergi untuk mencari makan ketika Matahari terbenam. Tidak ada data pasti ada berapa banyak populasi kelelawar di Pulau Rambut, namun semakin banyak kelelawar akan mengakibatkan semakin banyak pohon yang mati.

Pteropus vampyrus
Ancaman lain adalah sampah. Sampah rumah tangga “dikirim” dari Jakarta dan dari sungai ke Laut Jawa, menyatu dengan pasir di hutan mangrove. Botol dan kantong plastik, barang-barang kayu dan sandal karet juga sangat membahayakan ekosistem pantai. Tumpahan minyakpun kadang ditemukan di sepanjang pantai.

Pengunjung juga bisa merupakan masalah bagi burung, apalagi bagi burung yang terganggu dengan suara bising. Pengunjung dalam jumlah banyak dilarang menginap dan tidak boleh menyalakan musik keras-keras. Perilaku burung sering terlihat aneh saat memberi makan anak-anaknya, atau saat sedang bertelur, bila mereka terusik oleh suara bising seperti suara pesawat atau suara gaduh. Mereka menjadi stres dan terkadang menyepak anak atau telurnya keluar sarang hingga terjadilah “hujan telur burung”, “hujan kotoran burung”, dan “hujan anak burung”.

Waktu terbaik mengunjungi Pulau Rambut adalah Maret-September. Selain cuaca yang bagus, pada bulan tersebut pengunjung bisa melihat burung memberi makan anak mereka dengan ikan segar yang baru ditangkap.

Untuk menuju Pulau Rambut, dapat menggunakan speedboat dari Marina Ancol dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Juga dapat berangkat dari Muara Angke dengan perahu motor (sekitar 90 menit). Atau juga dari Pelabuhan Kamal dengan perahu motor (sekitar 60 menit). Dan salah satu pilihan lagi adalah dari Tanjung Pasir, Tangerang, dengan perahu motor (sekitar 30 menit).

Pulau lain yang dekat dengan Pulau Rambut adalah Pulau Untung Jawa. Penduduk pulau ini menyediakan penginapan bagi pengunjung. Berjarak kurang dari 3 km dari Pulau Rambut, Pulau Untung Jawa merupakan zona penyangga konservasi. Sayangnya, Pulau Rambut dan pulau tetangganya itu tidak memiliki fasilitas akomodasi yang baik.

Pulau Rambut - Pulau Untung Jawa, diambil dari Google Earth

Thanks for reading ^_^

Sumber:

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Rabu, 13 Juli 2011

SEJARAH AWAL PISTOL

Tak ada satu pun pihak yang bisa memastikan kapan awal kemunculan pistol. Senjata tangan ini diperkirakan muncul sekitar abad 14. Beberapa sejarahwan mengungkapkan bahwa pistol diciptakan sebagai improvisasi dari bubuk mesiu. Awal kemunculannya bermula dari “hand gonne”, yang sisa-sisanya banyak ditemukan di wilayah Estonia. Sepanjang sejarah awalnya, pistol selalu berada di balik bayang-bayang popularitas senapan (rifle).

Awal munculnya pistol bisa dirunut dari hand gonne – pelontar proyektil mirip canon ukuran mini. Hand gonne dioperasikan minimal oleh dua orang. Satu orang memegangnya di depan dada, yang lain menyulut api. Prinsip kerjanya mirip dengan canon yang banyak ditemukan pada abad pertengahan. Proyektil logam berbentuk bola berdiameter 1,8-2,5 cm harus dimasukkan ke tabung yang sebelumnya telah diisi bubuk mesiu. Saat ditembakkan, ujung laras hand gonne harus membentuk sudut elevasi karena lubang tabung (yang di kemudian hari disebut kaliber) nyaris pas dengan diameter proyektil. Mesiu yang kemudian disulut api akan menciptakan ledakan dan gas. Pada saat inilah proyektil terlontar. Jarak tembak hand gonne sekitar 35 meter.

Handgonne
Penggunaan Handgonne
Tak lama setelah era hand gonne memudar, orang-orang Portugal memperkenalkan pistol yang merupakan turunan dari senapan matchlock. Disebut matchlock karena mekanisme pemantikan mesiunya sangat bergantung pada ketepatan jatuh sumbu berapi pada cawan mesiu. Saat mesiu pada cawan terbakar, api secara otomatis akan masuk melalui lubang kecil ke pangkal laras. Sama seperti pada hand gonne, proyektil berbentuk bola besi kecil akan terlontar. Lewat mekanisme inilah pertama kalinya dikenal sistem pemantik peluru. Meski bentuknya masih sederhana, api sudah tidak disulut secara manual. Dengan sistem ini, sumbu api yang dijepit di kepala tangkai logam berbentuk huruf “S” akan digerakkan “mematuk” cawan kecil berisi mesiu. Gerakan mematuk akan terjadi setelah trigger ditarik. Pistol dan senapan matchlock diperkenalkan pada pertengahan abad 14. Namun, pistol matchlock kalah populer dari versi senapannya, sehingga dibuat sangat terbatas. Rifle matchlock sempat dibuat massal dan menjadi pegangan utama bangsa Portugal saat menjelajah Amerika. Bangsa lain yang menggunakan rifle ini adalah bangsa Jerman dan Perancis. Senapan jenis ini juga dikenal dengan nama “musket”, sehingga tentara yang menggunakannya biasa disebut “musketeer”.

Pistol Matchlock
Mekanisme Matchlock (atas)




Matchlock Rifle
Namun, berbagai insiden yang terjadi membuat matchlock kian tak populer. Mesiunya kerap meletup tanpa diduga. Ledakan ini terkadang melukai pinggang dan kaki pemiliknya, biasa terjadi akibat api pada sumbu pemantik masih membara dan tanpa disadari menyulut mesiu yang tersimpan di saku celana. Selain itu, pistol atau rifle matchlock kurang responsif saat dipakai dalam cuaca basah. Para penggunanya sering kerepotan menjaga agar sumbu tetap membara. Senjata ini bahkan masih sering kalah cepat dengan panah.

Riskannya penggunaan sumbu api membuat para perancang senjata mencari sistem pemantik lain yang lebih aman. Sistem yang baru kemudian menggunakan batu api (flint). Sistem ini tidak begitu lama diciptakan karena pada masa itu, sekitar abad 15, batu api sudah biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Bentuk evolusi pertama diciptakan oleh Johann Kiefuss dari Nuenberg, Jerman, pada 1517. Sistem pengganti matchlock ini biasa disebut “wheellock”. Mekanisme wheellock mirip dengan pemantik korek api gas sekarang. Api akan terpercik setelah batu api digerus roda (wheel) bergerigi. Tarikan trigger akan membuat striker arm (tangkai penjepit) batu api jatuh pada cawan mesiu. Roda bergerigi yang ada di bawah cawan kemudian berputar dan menggerus batu api. Percikan api akan membakar mesiu dan tersulutlah mesiu di dalam laras.

Pistol Wheellock
Bagian dalam Wheellock 
Sejumlah literatur menyatakan bahwa sebenarnya penemu sistem pemantik ini bukanlah Kiefuss, melainkan Leonardo da Vinci, sekitar abad 15. Pistol jenis inilah yang memungkinkan dioperasikan hanya dengan satu tangan.

Karena ongkos pembuatan wheellock jauh lebih mahal dari matchlock, pistol dan senapan ini tidak diberikan pada semua prajurit, hanya pada perwira penting saja. Wheellock masih bertahan hingga abad 18. Sementara itu, sistem baru kembali muncul. Jenis pistol yang baru ini disebut “snaphaunce”. Snaphaunce bisa dibilang tidak benar-benar baru, karena masih menggunakan batu api. Bedanya, snaphaunce tidak menggunakan roda bergigi. Bagian yang dianggap mahal ini diganti dengan tangkai bergigi yang cukup digerakkan per daun.

Snaphaunce
Snaphaunce
Pada snaphaunce, tarikan trigger akan menggerakkan tiga bagian berturut-turut. Pertama, tutup cawan mesiu akan terbuka, lalu striker arm batu api akan “mematuk” cawan mesiu. Sebelum jatuh di cawan, batu api akan menggesek tangkai bergerigi terlebih dulu sehingga percikannya akan membakar mesiu di cawan. Semburan api inilah yang selanjutnya akan menjalar masuk ke laras dan menciptakan ledakan. Tipe snaphaunce muncul pertama kali pada 1570. Beberapa literatur menyebutkan pengguna pertama kali adalah orang Eropa utara. Namun ada juga yang menyebut Belanda, didasarkan pada kata “snaphaunce” yang kemungkinan berasal dari kata “schnapp hahn” yang berarti patukan ayam jago (gerakan striker arm batu api memang mirip patukan ayam jago).

Sistem baru yang lebih praktis kembali muncul. Pada 1612, seorang Perancis bernama Marin le Bourgeoys memperkenalkan ciptaannya. Ia tak banyak mengubah mekanisme pada snaphaunce, hanya memadukan fungsi tangkai penggerus dengan tutup cawan mesiu. Tipe baru ini dikenal dengan nama “flintlock”. Flintlock langsung diserahkan pada Raja Henry IV, penguasa Perancis saat itu. Dia pun langsung memerintahkan pabrik senjata untuk memproduksinya secara massal. Kepraktisannya membuat flintlock dengan cepat populer di kalangan militer Eropa dan menggeser wheellock dan snaphaunce.

Model flintlock paling terkenal adalah Brown Bess Flintlock, dibuat pada 1700an. Jenis yang satu ini bisa diisi mesiu dan proyektil lalu menembaknya dua sampai lima kali per menit. Keakuratannya pun sudah lumayan meningkat, bisa membunuh orang dari jarak sekitar 10 meter. Flintlock adalah jenis terakhir yang menggunakan batu api.

Flintlock

Flintlock Inggris
Flintlock Skotlandia
Brown Bess Flintlock
Bagian dalam Flintlock
Masa keemasan flintlock berlangsung cukup lama, sekitar 200 tahun, sampai akhirnya ditutup oleh ciptaan John Forsyth. Pastor Skotlandia ini memperkenalkan sistem pemantik api “percussion cap” (pemukul topi) pada 1805. Kepopuleran percussion cap adalah karena tidak lagi menggunakan batu api yang dianggap kurang memadai karena rentan air dan kerap tak bisa digunakan dalam keadaan lembab.

Sebelum merancang percussion cap, Forsyth meramu bahan peledak baru yang selanjutnya menjadi peledak mesiu yang ditaruh dalam laras senapan atau pistol. Material peledak yang merupakan campuran merkuri itu ditaruh pada mulut pipa kecil yang mengarah pada lubang mesiu. Material yang sudah dibungkus inilah yang nantinya akan “dipukul” pelatuk (hammer) dan selanjutnya mengirim api ke tabung mesiu. Kelak, mekanisme semacam inilah yang akan digunakan sebagai dasar rancang bangun peluru atau “cartridge”.

Pada setiap peluru, terdapat 1) bullet atau proyektil yang akan dilontarkan, 2) selongsong atau tabung mesiu, 3) mesiu atau material cordite, 4) rim atau bagian selongsong untuk “loading”, dan 5) primer, pemantik mesiu di “pantat” peluru. Primer inilah yang merupakan bentuk evolusi percussion cap.

Percussion Cap
Perbandingan Mekanisme
Sepintas, percussion cap masih menyerupai flintlock. Senjata ini masih memiliki tangkai berbentuk huruf “S” yang biasa dipakai untuk menjepit batu api. Namun, pada percussion cap, tangkai ini tidak lagi menjepit batu api. Di ujung tangkai ini hanya ada cekungan yang digunakan untuk “memukul” topi peledak merkuri di ujung tangkai satunya lagi.

Percussion cap dianggap sebagai pembuka jalan menuju perancangan senjata genggam (handgun) dengan peluru dalam silinder putar atau revolver. Revolver mulai marak digunakan di Amerika Serikat saat Perang Sipil.

Sejak itu, perkembangan rancang bangun dan mekanik pistol berkembang luar biasa. Selain memicu pembuatan revolver, peluru juga memicu pembuatan pistol bermagasin, yang variannya terus bermunculan dari masa ke masa.

Revolver
Revolver Colt Phyton 357 Magnum
Revolver Smith&Wesson Model 625

Thanks for reading ^_^

Sumber:
Majalah "Angkasa" edisi "The Very Interesting History of Pistol & Revolver"

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.

Selasa, 12 Juli 2011

KODE DI BAWAH KEMASAN PLASTIK

Kode di bawah kemasan plastik adalah angka (dan huruf) dalam lingkaran segitiga (logo daur ulang), yang biasanya tercantum di bagian bawah kemasan.

Masyarakat Indonesia mempunyai kebiasaan mengisi ulang botol plastik. Padahal, tidak semua botol plastik bisa digunakan kembali. Kode di bawah botol plastik menunjukkan boleh tidaknya botol (maupun wadah) plastik tersebut dipakai kembali. Kemasan plastik yang seharusnya hanya sekali pakai namun dipakai berulang-ulang bisa menyebabkan iritasi kulit, gangguan hormon, gangguan saluran pernafasan, dan kanker.

Kode-kode yang menandakan bahan pembuatan kemasan plastik tersebut dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada 1998 di Amerika Serikat dan kemudian diadopsi oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem kode, seperti International Organization for Standarization (ISO). Tujuan pemberian kode ini adalah untuk memudahkan konsumen mengenali keamanan dan bahaya kemasan plastik.

Kode angka ini terbagi menjadi 7 kode angka.


Angka 1 [PET / PETE]

Kode ini disertai tulisan PET/PETE (polyethylene terephthalete). Kemasan dengan angka ini berarti mengandung 30% PET. Plastik jenis ini berwarna jernih, transparan, dan banyak dipakai untuk botol air mineral, jus, dan hampir semua botol minuman ringan lain.

Kemasan berkode 1 direkomendasikan hanya sekali pakai. Desain leher botol yang sempit membuatnya sulit dibersihkan. Lama kelamaan, bakteri dari tangan dan mulut bisa berkembang di botol. Bahan ini pun bila sering dipakai, apalagi untuk menyimpan air hangat atau panas, akan membuat lapisan polimer pada botol meleleh dan mengeluarkan zat karsinogenik (penyebab kanker) dalam jangka panjang.

Pembuatan PET menggunakan antimoni trioksida, yang dalam dosis rendah dapat menyebabkan sakit kepala dan depresi. Dalam dosis besar, bisa mematikan. Uni Eropa menetapkan batas aman antimoni dalam air mineral adalah 5 mikrogram/liter. Namun, belum ada batas untuk produk makanan. Di atas batas aman ini, antimoni bisa menyebabkan mual dan muntah.


Angka 2 [HDPE]

Kode angka 2 biasanya disertai tulisan HDPE (high density polyethylene). Kemasan plastik ini memiliki bahan yang lebih kuat, keras, buram, dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Biasanya dipakai untuk kemasan susu, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman digunakan karena kandungan plastiknya mampu mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik dengan makanan atau minuman yang dikemasnya.

Seperti halnya PET, HDPE juga direkomendasikan sekali pakai. PET dan HDPE dibuat dengan menggunakan senyawa antimoni trioksida yang mudah masuk ke tubuh. Kontaminasi senyawa ini dalam jangka panjang akan menyebabkan iritasi kulit dan gangguan saluran pernapasan. Bagi wanita, senyawa ini bisa meningkatkan masalah menstruasi dan keguguran.


Angka 3 [V]

Kode ini disertai huruf V (vinyl), atau PVC (polyvinyl chloride). Jenis ini adalah jenis yang paling sulit didaur ulang. Bahan ini biasa digunakan pada pembungkus dan beberapa botol minuman. Jenis ini berbahaya untuk kesehatan karena mengandung DEHA (di-2-etil-heksiladipat) yang dapat bereaksi dengan makanan saat bersentuhan langsung. DEHA bisa lumer pada suhu 15˚ Celcius.

Reaksi antara PVC dengan makanan yang dikemasnya berbahaya bagi ginjal, hati, dan menyebabkan penurunan berat badan.


Angka 4 [LDPE]

Kode angka 4 tertera bersama tulisan LDPE (low density polyethylene). Bahan ini kuat, sedikit tembus cahaya, dan fleksibel dengan permukaan agak berlemak. Bahan ini terbuat dari minyak bumi dan biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, dan botol-botol yang lembek.

Pada suhu di bawah 60˚ Celcius, plastik ini sangat resisten terhadap senyawa kimia. Bahan ini memiliki daya proteksi yang baik terhadap uap air, namun kurang baik terhadap gas lain seperti oksigen. Plastik ini sulit dihancurkan namun dapat didaur ulang. LDPE baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimia dengan makanan yang dikemasnya.


Angka 5 [PP]

Tulisan PP (polypropylene) tertera bersama kode ini. Plastik ini kuat, transparan namun tidak jernih, berawan, ringan, berdaya tembus uap rendah, memiliki ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan agak mengkilap.

PP adalah bahan terbaik dan aman, terutama untuk tempat makanan dan minuman.


Angka 6 [PS]

Angka 6 ditemani tulisan PS [polystyrene]. PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam dan tempat minum sekali pakai. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang bisa mengeluarkan bahan styrene ketika makanan bersentuhan dengan wadah. Selain dari tempat makanan, styrene juga didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung.

Bahan ini berbahaya bagi otak, mengganggu hormon estrogen pada wanita yang berbahaya bagi reproduksi, pertumbuhan, dan sistem syaraf. Bahan plastik ini pun sulit didaur ulang karena memerlukan proses yang sangat lama. Banyak negara bagian Amerika Serikat dan China sudah melarang pemakaian styrofoam untuk kemasan makanan.


Angka 7 [OTHER]

Kode angka 7 biasanya disertai tulisan OTHER. Jenis ini terbagi 4, yaitu PC (polycarbonate), SAN (styrene acrylonitrile), ABS (acrylonitrile butadiene styrene), dan Nylon. OTHER biasanya digunakan untuk botol minuman olahraga, suku cadang mobil, alat rumah tangga, komputer, alat elektronik, plastik kemasan, botol susu bayi, gelas balita, botol minuman polikarbonat, dan kaleng kemasan.

PC tidak dianjurkan sebagai kemasan karena bahan utamanya, Bisphenol A, bisa keluar ke dalam makanan dan minuman. Bisphenol A bisa merusak sistem hormon, merusak kromosom pada ovarium, mengakibatkan penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas.

SAN dan ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia dan suhu sehingga aman digunakan sebagai kemasan. SAN biasanya digunakan untuk mangkuk mikser, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi. Sedangkan ABS digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa.

Kode Kemasan
Kode Kemasan


Thanks for reading ^_^

Sumber:

PS:
Silakan kalau mau copy-paste, namun kalau tidak keberatan mohon sertakan link-back ke blog ini. Terima kasih.